30 November, 2010

toycam

Kemarin pas lagi online di kaskus, sempat singgah di tritnya si ultramand. Dia jualan toycam. Eh, langsung suka sama yang diana f+cmyk. Tapi karena harganya wow buat saya, jadi saya nanya barang yang lain deh :) Trus, setelah kirim2 pm. Akhirnya dapat deh yang saya suka. Katanya kamera ini namanya disderi. Saya baru pesan barangnya, belinya bisa kapan aja katanya. Soalnya barangnya kan di Makassar. Belum bisa beli sekarang karena uangnya masih mau dipake untuk hal yang lebih penting. hehehe.. Ini contoh gambarnya.

(Gambarnya sudah tidak tersedia. Hiks..)

Saya minatnya sama yang black-blue. Bagus gak? Ini contoh hasil jepretannya...

20 September, 2010

met milad, Ayatillah :)


Ini tentang Ayatillah, ponakan perdana saya kalau dilihat dari saudara kandung (kan ada juga tuh ponakan dari saudara suami..hoho). Jadi waktu tanggal 14 September 2010, ponakan saya yang akrab saya sapa 'Ayat' (sebenarnya lebih sering disapa 'apoy', 'apoylila', dan nama-nama buatan saya lainnya) genap berusia setahun.

(foto saya dan Ayat, dia ndak mau foto sama yang lain..hahaha)

Met milad, ayat sayang...
Jadi anak yang sholehah yaa.. Rajin shalat, ngaji, pintar, dan penyayang..
Luv u :*

18 Oktober, 2009

Bukan Desember ya ?

"Selalu ada yang bernyanyi dan berelegi
Dibalik awan hitam
Smoga ada yang menerangi sisi gelap ini,
Menanti..
Seperti pelangi setia menunggu hujan reda

Aku selalu suka sehabis hujan dibulan desember,
Di bulan desember

Sampai nanti ketika hujan tak lagi
Meneteskan duka meretas luka
Sampai hujan memulihkan luka"

----

Saya suka lagu ini, lirik dan musiknya . Efek Rumah Kaca , judulnya Desember.
Mungkin maknanya tidak pas dengan kondisi saya saat ini . Tapi musik dan beberapa kata yang ada di dalamnya bisa menjadi penenang di saat lelah.

"Aku selalu suka sehabis hujan dibulan desember,
Di bulan desember"

Ternyata hujan malam itu , yang derasnya amat deras , hingga mencipta kolamkolam dangkal dimana-mana badan jalan , jatuh tidak pada bulan desember seperti lirik lagu ini.
Mereka jatuh di bulan sebelum desember.

Ya sudah, biar nanti kita saja yang ciptakan lagunya....

07 Oktober, 2009

listrik padam , padamkah anda ?

-ruang tamu rumah Jln.RSI.Faisal 9 No.3 Makassar-

Beberapa menit yang lalu listrik di daerah ini padam. Saya tidak begitu heran dengan kejadian ini (kenapa juga mesti heran?;-D) karena akhir-akhir ini pemadaman listrik secara bergilir di kota Makassar memang sering terjadi. Entah alasannya apa. Saya tidak terlalu punya nafsu untuk bertanya pada pihak perusahaan listrik negara.

Beberapa waktu yang lalu, saya melihat status temanteman makassar di fb yang temanya sama, meskipun isinya berbeda. Status mereka yang sudah lebih dahulu dapat jatah pemadaman listrik bergilir dari PLN.

Beberapa waktu yang lalu, saya mengomentari status orangorang yang tak berhenti mengeluh itu. Bahwa betapa temanteman kita di Padang sana, yang setiap malam tak hanya bergelapgelap ria, tetapi juga dibayangi rasa takut, lapar, dan rasarasa lainnya, sungguh mereka-lah yang lebih pantas mengeluh !

Jangan selalu menyalahkan listrik yang padam, coba pikirkan, apa saja yang kita lakukan saat ada aliran listrik? Saat matahari bersinar terik?

Sekarang, lihatlah betapa romantis malam ini. Hanya lilin dari dalam rumah, dan candra penuh cahaya dari Yang Kuasa, pun orangorang rumah yang berkumpul bersama di satu ruang. Coba pikirkan, pernahkah kalian seperti ini di saatsaat lainnya?

Terima kasih untuk PLN atas malam yang romantis ini.

Terima kasih untuk seseorang atas pelajaran 'jangan pernah mengeluh'nya beberapa hari yang lalu ...

15 September, 2009

Hikayat Kakakz-Beradikz

ditulis oleh adikz yang sangat saya sayangi...
*sayanginyamiiii*

Dua insan mudi telah mengikrarkan status mereka, sebagai sepasang "adikz-kakakz". Seperti rumit diucapkan, tapi tak serumit dengan yang terlanjur nyata. Keduanya punya kebiasaan yang mendekati biasa untuk dilakukan, yang kurang lebih sama.
Berusaha untuk menjadi Chairil Anwar junior. Mungkin terbaca aneh. Tapi itulah mereka.
Mereka, si adik-kakak bajakan...!

hehehehe....

Neonatus

dan aku teringat kembali
tempat seharianku bermain
kemarin

dua orang wanita berpakaian sama
lengkap dengan empat neonatus
seorang lelaki, sisanya bukan lelaki

dan disana banyak tangis
tangis yang baru lahir
pada suatu senin yang sama

tangis riang gerombolan neonatus
dan salah seorang bukan lelaki
rupanya kukenali

mungkin telah lama
aku pun telah ia kenali

-menanti waktu berbahasa Indonesia di Ruang PB 125 Unhas-
untuk ponakanku, Ayva , dan neonatus lainnya disana...

05 September, 2009

Kepada seorang Amalia


Baru saja kau meneleponku , katamu : "hari ini aku berulang tahun , demikian juga dengan tiga bonekaku , tak inginkah kau mengucapkan selamat pada mereka?"

ah , dasar Amalia .
Pada beberapa waktu kau sering berpurapura gila , dan mengajakku untuk patuh akan aliranmu .

Oke , tentu saja .
Aku akan menjadi penggila yang setia . Hari ini . Ya , hanya untuk hari ini .

Dan mari kita mulai obrolan gila ini, kataku:
"Oh ya?selamat kalau begitu...ulang tahun yang ke berapa?"

Kaupun menyebutkan usia mereka masingmasing. Ya, mereka. Mereka para boneka yang sungguh sangat tidak nyata. Mereka yang jumlahnya tiga , pemberian dari orang yang selalu kau sebutsebut benda peninggalan yang teramat bersejarah.

Aku berkata lagi, "apa dua bonekaku tak diundang pada perayaannya?"

Kali ini jelas , tahap gila sudah kita capai .

"tentu saja , datanglah ...".
Begitulah seorang Amalia mengakhiri pembicaraannya sendiri .
--

29 Juni, 2009

Hasil pertama dari perburuan PTN......memilukankah?


Andy Hardiyanti Hastuti OL sebentar skali,cuma mau bilang: ternyata ndak diizinkan k' ma Allah SWT tuk berkelana menimba ilmu di ibukoteee.. pasti ada rencana lain-Nya...hohoho..Rabb emang slalu getooo deh... Dia maunya tutut teteup berpijak di bumi jalangkoteee bukan di ibukotee.. okeeehh..LULUS ma' SNMPTN ntuw berarti :))

(dikutip dari status terbaru di Facebook)


Yah..yah...
Pengumuman yang membuat saya merasa biasa saja...
Tidak kecewa...tidak sedih...apalagi untuk bahagia dan gembira...
*Dasar orang ndak sensitif!
hhahahahahahhaha:D

Masih ada SNMPTN,kawan.....^_____________^

08 Mei, 2009

Rindu Stadium Empat

sayang,
aku terserang penyakit rindu stadium empat!
hubungilah segera ponselku, bila kau sempat!
atau biar aku saja yang menghubungimu, mohon diangkat!
jangan sampai stadium penyakit ini semakin meningkat!
apa hendak kau lihat
seorang perempuan tergeletak di tempat ini sebagai mayat
korban penyakit rindu stadium empat?

Makassar, 8 Mei 2009

Lelaki dari Sinjai

:iccang d'reds

katamu, di sana batu kali menghiasi
biji kopi, menebar aroma satu sinjai
belum lagi dedaunan tembakau murni
yang mereka bilang
jadi lalapan para parakang

kau mau dibawakan apa,kawan?
jangan minta benda lain
aku tak punya apa-apa tuk membeli apa-apa
yang kau pinta
kecuali itu di atas yang tiga

pilih saja, aku yakin kau 'kan suka
sebab sungai mana di Makassar, yang menyembunyikan
batu kali seindah milik Sinjai?
di sudut mana di Makassar, hendak kau jumpai biji kopi?
dan di jalan mana di Makassar, tempat parakang bisa dipandang?

percayalah kawan,
yang tiga ini, oleholeh istimewa
dan hanya ada di Sinjai!

(Mks, 5-8 Mei 2009)

buat semua orang Sinjai, maaf nah kl0' ada kata-kata dalam sajak saya yang membuat Anda tersinggung..hhehehehe

03 Mei, 2009

Engkau, dia, dan Dia

dia mungkin 'kan berubah, tak seperti dulu
karena itu ada engkau, seandainya kelak dia berubah
dan Dia tahu betul, kau mampu tuntun dia
maka tengadahlah sepasang telapak tangan itu
manakala detikdetik memejamkan sejuta mata
mungkin pula sepasang mata, yang dia punya
temui Dia yang tak pernah henti mengalirkan cinta
mohon agar dia tak mengubah waktuwaktu pertemuannya
dengan Dia,sebab Dia-lah sumber segala cinta
dia perlu engkau dan dia butuh Dia

(Rumah-MKS,3 Mei 2009)

Yang Habis 'tuk Tangis

Bukankah kau slalu kokohkan ranting lain yang nyaris terjatuh?
Lalu bawanya menuju hari-hari baru, menembus setiap musim
yang mungkin sebelumnya belumlah ia kenal.
Dan malam-malam yang kau punya, tiada lain hanya 'tuk jawab tanya.
Sekadar basahi akar-akar, yang merasa gerah
di hari yang lainnya merasa cerah.
Sedang mereka yakin, waktumu punya sinar secerah surya.
Tegas, hangat, dan tanpa beban.
Apa mereka pikir kau tak punya air mata?
Atau mereka sebenarnya mengerti, air matamu telah habis.
Habis.
Habis untuk tangis.

(Rumah-MKS,3 Mei 2009)

18 Desember, 2008

baitbait untuk mama


kata orang, ini bulan untuk mama
nanti tanggal duapuluh dua
aku belum tau mau rayakan apa
aku tak tau hendak berikan apa
kadang aku merasa-sekadar merasa
ritual ini tidak ada adilnya
hanya sehari masa indah untukmu
sedang sepanjang hari, sepanjang waktu
sepanjang usiaku adalah perayaan darimu

kata mama, sangat senang ia dengan doa
doadoa dari anakanaknya
meski bagiku belumlah cukup itu semua
dengan apaapa yang sudah kuterima
tapi jika segaris senyum dapat tercipta
mengapa tidak, aku menghadapNya
menengadahkan tangan seraya berkata:

Ya Rabb,
yang maha pengasih,
yang maha penyayang,
yang maha pengampun,
curahkanlah kasih sayangMu untuk mama
sebagaimana kasih sayang yang tercurah
darinya untuk anakanaknya
ampunilah dosanya andaikata pernah
ia perbuat dosa

:tanyaku, cukupkah baitbait puisi ini untuknya?

Makassar, 18 Desember 2008
*puisi ini diikutkan dalam lomba menulis puisi untuk mama yang diadakan oleh TribunTimur dan Telkom...

15 Desember, 2008

puisi dalam hujan

/1/
sarapan apa kita pagi ini,sayang?
jawabmu sungguh sama denganku
meski masih dalam pembaringan
aku pada ruang ujian
menatap luaran jendela
bersama kita berkata
:hujan

Ruang ujian 03, 10 Desember 2008

/2/
hujan,
aku ditikam kerinduan!

Rumah, 12 Desember 2008

30 November, 2008

ia bukan-bukan ia-ia bukan siapasiapa

:masih untukmu, Amhel

lupakan saja
anggap ia bukan darah
yang menderas dalam tubuhmu
anggap ia bukan jantung
yang berdegup terus pertahankan hidupmu
anggap ia bukan masalah
yang berkeliaran dalam pikiranmu

sebab
ia memang tak seperti
yang kuibaratkan
ia memang bukan siapasiapa
yang berhak guncang hatimu

ia tak pernah
pikirkanmu
lalu tuk apa
terus kau pikirkannya?

mengingat amhel, 30 November 2008

21 November, 2008

Sebuah Prasasti Pertemuan

Pada suatu masa yang tidak begitu lampau, saya nekat terjun bebas ke sebuah arena yang sebenarnya saya sendiri tidak yakin mampu melakukannya. Sebuah pertarungan sengit, sejumlah insan bertarung merangkai kata dan mengorasikan hasil karyanya di hadapan mukamuka yang tak dikenal dan batangbatang pohon yang membeku. Dalam durasi seribu delapanratus detik, katakata harus berhasil diolah menjadi punya makna dengan garisgaris batasan mengenai budaya. Usai itu, katakata yang telah dirangkai dan diolah sedemikian rupa harus -dipertanggungjawabkan-. Saya sendiri tidak begitu yakin mampu mengorasikan hasil karya saya yang bertajuk "Sajak dari Sebatang Pohon Tua untuk Tamunya yang Mudamuda". Di tribun utama, tiga batang tubuh dengan polesan wajah sastra yang tak lagi diragukan sudah siap dengan pena dan kertas, hari ini mereka adalah orang terpenting di arena tersebut. Mereka adalah Andhika Mappasomba dan Salim (saya menambahkan kata "kak" pada masingmasing nama, sekedar menegaskan bahwa mereka lahir lebih awal...),sedang sebatangnya lagi tak saya ketahui namanya.

Saya jadi penerjun terakhir masa itu. Rasanya orasi saya tidak begitu baik,-buruk- secara kasarnya. Begitu ritus katakata usai. Kami berhamburan. Salah satu batang tubuh tadi memanggil saya, pada singgasananya ia berkata: "seandainya kamu tidak menang, jangan berhenti menulis!"..., "Hmmm.."(saya hanya menjawab begitu). Dia menambahkan:"Tulisan kamu bagus, tetaplah menulis!".
Tak lama kemudian, bersama mukamuka lainnya kami menuju suatu koridor. Berbicara apaapa saja. Selang beberapa waktu lagi, semua kembali memindahkan pijakan kakinya di sebuah bilik yang suarasuara bergemuruh di dalamnya, sebuah arena pertunjukan yang mengundang banyak muka menuju padanya. Saya mengambil tempat tepat disamping muka yang sudah hampir tiga tahun saya kenali.

Ada suara yang memanggil nama saya, dalam waktu sangat singkat saya mendapatkan sumbernya. Siapa lagi kalau bukan batang tubuh tadi, seorang Andhika Mappasomba, lelaki yang mengabadikan sejarah sastra yang panjang lewat helaihelai rambutnya, menyelamatkan berkilokilo budaya yang hampir sirna lewat perutnya yang tak begitu saya ketahui massanya, melihat kawankawan lewat kacamata hitamnya (ia tidak begitu kagum pada kilaukilau emas para hartawan, begitulah ia tak kuasa menatap apaapa yang silau). Saya menuju sumber suara itu, mengambil tempat di sampingnya. Rupanya ia mengajak saya membuat sebuah puisi yang ditulis secara bergantian (puisi yang ditulis/diciptakan oleh dua batang tubuh). Maka terciptalah dua puisi hari itu. Puisi pertama berjudul "Bulan dan Hujan" (sebuah prasasti pertemuan), sedangkan puisi yang kedua berjudul "Penyair Senja".

ini dia puisipuisinya...

"Bulan dan Hujan"
:sebuah prasasti pertemuan

malam kemarin,
bulan mengusir hujan dengan paksa
sebab ia ingin melihat langit bahagia semalam saja
tak meneteskan airmata seperti kemarinkemarinnya

malam kini,
hujan mengusir bulan dengan teriak
sebab ia ingin berdua saja bersama langit
merasa gelap sunyi tanpanya ataupun bintang

lalu pada malam esok, bulan dan hujan bermimpi
berdua mereka bernyanyi lagu sendu
disaksikan matahari dan bintang
sesaat kemudian keduanya terbangun
sebagaimana matahari yang pagi dan bintang yang malam
bagaimana pun juga mereka tak kan bersatu

sambil sembunyi
bulan dan hujan menangis tersedu-sedu!

*ditulis bersama Kak Andhika Mappasomba
UNM, 16 November 2008


"Penyair Senja"

ia satusatunya penyair yang tak merdeka
mencipta sajak, hanya saat senja

ia satusatunya penyair yang tak merdeka
mencipta sajak, masih memainkan sulaman kata

ia satusatunya penyair yang tak merdeka
mencipta sajak, ketika pikirannya sudah semakin tua

ia satusatunya penyair yang tak merdeka
mencipta sajak, ketika rindu menikamnikamnya

ia satusatunya penyair yang tak merdeka
mencipta sajak, hanya bila ada pensil kayu dan kertas buram

senja memudar, perlahan malam tiba
sebagaimana senja, penyair pun telah tiada
angin menghapus semua jejak sajaknya
malam membekukan kertas
matahari memanggangnya jadi debu

penyair senja jadi bayangbayang

*ditulis bersama Kak Andhika Mappasomba
UNM, 16 November 2008

16 November, 2008

rendezvous (under the tree)

sepohon rimbun rindang di sebuah gedung tak terjaga
ia hanya duduk disitu
tak berpindah selamanya
kadang beda hanya tergantung dari musim
bila hujan ia jadi peneduh seadanya
jika terik maka ia dicintai segala rupa
mukamuka duduk mengelilinginya
disini ia temui lagi apa yang tak sama
kadang mereka bicara apa adanya, sekedar istirah,
atau bermain sastra
salah satu permainan andalan mereka
tak jarang tawa jadi sisipan
atau yang beratberat dirangkumkan agar jadi ringan
:permainan bagus

kelak kan kumainkan pula di gedung tuaku
disana berdiri kokoh sebuah pohon mangga
tapi sayang sekali tak ada mukamuka bicara sastra
hanya ada rak tempat bukubuku yang semakin beku
atau remajaremaja yang tibatiba ada kala senja

malam, 16 November 2008

canda

seperti engkau,
akupun mencintai canda
tapi tak lebihlebih,
secukupnya saja
:jangan sampai ia buat kita salah memakna

malam, 16 November 2008

14 November, 2008

sebuah maaf selama khilaf

:mama-ibu-bunda

kemana?
ke bilik terakhir
paling akhir
ke tempat bermain
seusai segala peluh dirasai

kemana?
ke telapak tangannya
kecup dan ucap maaf padanya
ikrarkan seluruh hati
sampaikan pada tingkah tuk mencintainya

(di hadapan laptop, 12 November 2008)

toycam

Kemarin pas lagi online di kaskus, sempat singgah di tritnya si ultramand. Dia jualan toycam. Eh, langsung suka sama yang diana f+cmyk. Tap...